Posted by: agriculturesupercamp | July 17, 2008

Butuh penampung lele?

Silakan hubungi :
Prayitno SE
praysucces@yahoo.co.id | 202.171.0.74
Mengingat sangat susahnya para Petani mengelola hasil panennya , saya pribadi siap menampung hasil panen mereka dengan harga yg kompetitif. mohon hubungi saya di telp. 021 68610763….021 88373233 ( malam )

Catatan:
Agriculture Super Camp hanya sekedar menjadi mediator bagi saudara Prayitno. Tidak memungut untung sama sekali. segala sesuatu yang terjadi dengan transaksi ini sepenuhnya di luar tanggung jawab Agriculture Super Camp

Terimakasih atas perhatiannya. Silakan bertransaksi secara jujur, terbuka dan adil.

Hormat saya

Franz J.B.

Posted by: agriculturesupercamp | July 5, 2008

Sukses Untuk Semua

Terimakasih & Selamat Untuk Semua

Blog ini milik kita semua. Apapun yang terjadi pada Agriculture Super Camp tak luput dari peran serta kawan-kawan. Kabar gembira, “kebun” tempat kita menyemai dan memanen benih pengetahuan ini terpilih sebagai salahsatu Blog nominasi dalam perlombaan yang diselenggarakan WWF (World Wildlife Fund).

Saya Ucapkan banyak terimakasih kepada seluruh “Kaum Sudra” (Petani) yang telah membuat Agriculture Super Camp hidup dan tumbuh subur. Sebagai balasan, silakan terus berkunjung dan bertukar pikiran dalam Blog ini. MANFAATKANLAH SEBESAR-BESARNYA UNTUK KEPERLUAN ANDA. LANTAS BAGIKAN PENGETAHUAN YANG TELAH ANDA TUAI UNTUK KEHIDUPAN SESAMA. AGAR ANDA BISA MENUAI PANEN LEBIH BANYAK.

Selama masih dalam batas kemampuan saya, saya akan terus berusaha menghapus rasa haus kawan-kawan petani terhadap ilmu & pengetahuan. Jadi jangan segan-segan BERKUNJUNG. Meski hanya “MAMPIR NGOMBE”. Segala saran-kritik dari kawan-kawan sangat saya harapkan sebagai pupuk penyubur Agriculture Super Camp. Saya pun hanya manusia biasa yang selalu haus ilmu pengetahuan dan pengalaman dari orang lain.

Selamat untuk kita semua

Franz J.B

Didukung Oleh :

Ingin tahu lebih banyak? Klik menu Grana Photography

Posted by: agriculturesupercamp | July 5, 2008

Etika Reportase Lingkungan Hidup & Pertanian

Bijak Berbisnis, Bijak Mewartakan dan Bijak Berhobi

Kebohongan publik adalah dosa besar bagi sorang jurnalis. Namun, dosa paling besar adalah hancurnya lingkungan hidup akibat eksploitas berita yang tak beretika.

Foto oleh Franz J.B.

Ekspedisi dan eksplorasi nampaknya saat ini telah menjadi sebuah menu sajian berita yang digemari. Akibatnya, tema berita seperti itu menjadi banyak dilirik oleh media massa sebagai sajian penghibur pendongkrak oplah dan rating. Ujung dari semua itu adalah keuntungan finansial.

Tak salah memang menyajikan berita bertema kekayaan alam. Namun cara penyajian tetap harus dipertimbangkan secara masak. Berbagai media cetak pertanian, flora dan fauna sangat gemar menggeber berita eksplorasi flora dan fauna. Keberadaa binatang dan tumbuhan langka diulas secara tuntas. Mulai dari keindahan sampai habitan dan persebaran mahluk itu.

Menyajikan berita flora fauna langka disertai penguraian lokasi atau habitatnya secara eksplisit itu patut diharamkan. Namun, tak jarang fatwa semacam itu saat ini banyak dilanggar media massa. Pemberitaan semacam itu bisa memancing pembaca atau pemirsa tidak bijak berbondong-bondong mengincar lokasi satwa yang diberitakan tersebut.

Hal yang lebih dikhawatirkan, pewartaan seperti itu juga bisa memicu eksploitasi lingkungan hidup oleh pemburu culas. Kerap kali, media massa tak hanya mengulas keindahan flora dan fauna. Mereka juga membubuhkan harga atau nilai ekonomis dari flora dan fauna yang bersangkutan. Bahkan lebih parah lagi, media massa seperti itu juga pandai melakukan provokasi massa agar tergiur menggeluti bisnis flora fauna yang belum jelas peta bisnisnya.

Sangat banyak contoh berita semacam itu. Mulai dari anthurum, kantung semar, buah merah, aneka reptil langka dan unggas atau burung. Pemberitaan hobii flora dan fauna tanpa diiringi upaya edukasi cara budidaya dan pelestarian tentu saja sangat membahayakan kelestarian lingkungan hidup. Berita flora dan fauna yang menarik bisa diperoleh ketika sebuah satwa langka berhasil dikembang biakkan secara eksitu.

Akibat ulasan berita yang tidak seimbang seperti itu, banyak diperjualbelikan satwa dan tanaman langka yang belum bisa dibudidayakan. Padahal, pasar masih menggantungkan suplai mahluk-mahluk itu dari pemburu liar di hutan. Contoh kasus adalah pakis monyet, anggrek species, dan kantung semar.

Sementaraitu, di dunia hobi burung berkicau amat banyak jenis burung ocehan yang belum bisa dibudidayakan namun telah diperjual belikan secara bebas. Contoh burung pentet (Lanius schach), anis macan (Zoothera dauma), kacer (Copsychus Saularis) , dan branjangan (Mirafra javanica). Ironisnya jenis burung tersebut banyak diperlombakan dan termasuk dalam kelas favorit. Kelas ini banyak diminati dan menawarakan hadiah yang sangat menggiurkan. Tak jarang, burung yang berhasil menjadi jawara akan dibandrol harga di luar nalar sehat (Ratusan juta rupiah). Akibatnya semakin banyak pehobi tergiur untung. Eksploitasi tak terkendali kian parah.

Kian langka- semakin mahal. Hal itu sudah menjadi hukum dalam dunia hobi flora dan fauna. Sementara, mahluk langka dan mahal merupakan obyek menarik sumber berita bagi media massa. Tanpa disadari, hubungan simbiosis antara pehobi dan media massa yang tak bertanggungjawab seperti itu menjelma menjadi sebuah lingkaran hitam penghancur semesta.

Mari kita bijak berbisnis, bijak mewartakan dan bijak berhobi (Franz J.B.)

Didukung oleh:

Informasi lengkap, klik menu Grana Photography

NB:

Bulan Juli ini sebuah MEDIA MASSA CETAK PERTANIAN TERKEMUKA mengulas kehidupan elang secara eksplisit. Menyebutkan lokasi satwa tersebut secara eksplisit. HAL INI TENTU KURANG ETIS. MOHON AGAR REDAKSI YANG BERSANGKUTAN MENGURANGI/TIDAK MENGULANG PEMBERITAAN SEMACAM ITU. BERITA DENGAN TEMA SAMA MASIH TETAP BISA DISAJIKAN KEPADA KHALAYAK UMUM. NAMUN, TENTU SAJA TIDAK DENGAN MENYANTUMKAN LOKASI PELIPUTAN SECARA EKSPLISIT.

Artikel semacam yang sering diulas dalam media massa ini adalah KANTUNG SEMAR. Ini hanya sebuah masukan. Semoga bermanfaat & MEMBANGUN. Setulusnya tak ada maksud mendiskriditkan media tersebut. Mohon maaf sebelumnya bila kritik/saran ini tidak berkenan di hati pimpinan redaksi yang bersangkutan.

Hormat saya

Franz J.B.

Posted by: agriculturesupercamp | July 5, 2008

Tabiat Elang Hitam

Dari Soaring Hingga Duel di Angkasa

Berbagi tugas dan kemandirian adalah norma utama generasi elang hitam. Mereka harus siap bertahan hidup dalam kehidupan belantara yang keras.

Foto : Franz J.B. (Elang hitam. Ictinaetus malayaensis)

Mengamati dan mencermati kehidupan harian elang hitam sungguh bermanfaat. Bukan hanya keasyikan yang bisa kita dapatkan. Cara hidup burung pemangsa ini mengandung nilai yang patut ditiru. Kemandirian dan saling bekerjasama adalah nilai itu. Acara mengintip burung seperti ini bisa menjadi sebuah hobi berpetualang yang sarat dengan pengetahuan.

Mengendap-endap di bawah tajuk pepohonan, berpakaian berwarna gelap, singgah di balik jaring kamuflase bisa membuat Anda terhindar dari pengamatan satwa bermata tajam ini. Unggas ini mampu melihat mangsa seukuran kelinci sejauh lebih dari 1,5 km.

Keras, itulah hukum yang berlaku dalam kehidupan di alam bebas. Hal inilah yang mungkin memaksa elang hitam mewariskan cara hidup mandiri dan saling berbagi tugas dari generasi ke generasi berikutnya.

Foto : Franz J.B. (Belajar keluar dari sarang ketika teleh berusia 2 bulan)

Unggas berbulu hitam ini termasuk satwa langka. Mereka memiliki masa reproduksi lama dengan jumlah kelahiran sedikit. Elang hitam bertelur dan beranak setiap 1 tahun sekali. Itu saja hanya menghasilkan 2 telur setiap kali bereproduksi. Hanya satu anak yang mampu bertahan hidup hingga dewasa. Di Jawa, elang ini bereproduksi pada saat Bulan Mei.

Bagi mereka, bertahan melestarikan kelangsungan generasi seperti itu bukan hal mudah. Elang hitam harus mampu mengalahkan ancaman kepunahan yang kerap bersumber dari kian menyempitnya tempat hidup mereka. Unggas bernama ilmiah Ictinaetus malayaensis ini hidup di India, Sri lanka, Asia Tenggara, Sunda Besar, Sulawesi dan Maluku.

Saat musim bereproduksi tiba, pasangan elang akan mencari lokasi sebagai tempat bertelur dan mengasuh anak.

Elang hitam akan menyuap anak-anaknya sampai mereka berusia sebulan Selepas itu, induk mulai melatih elang muda itu menikmati hasil buruannya secara mandiri. Induk akan menyabik-nyabik daging binatang tangkapannya lalu menaruhnya di sarang. Bila perut sudah lapar, anak elang itu mulai belajar menikmati menu makan sendiri. Saat usia anak mulai bertambah, induk tidak lagi memotong-motong hasil buruannya. Binatang tangkapan itu ditaruh utuh-utuh di sarang. Anak-anak mereka mulai belajar mencabik-cabik menu segarnya itu.

Pasangan elang melaksanakan tugas berburu secara bergantian. Ketika salah satu induk berburu di hutan, induk yang lain bertugas menjaga anak dan sarang mereka. Terbang soaring, berputar-putar di atas sarang. klii-ki …klii-ki atau hi-li-liiiuw…. Suara dari salah satu elang mengiysratkan kedatangan dengan hasil buruannya. Sementara induk yang tadi berjaga bergegas meluncur meninggalkan sarang untuk menggantikan tugas berburu.

Induk yang berhasil berburu terus berputar-putar di atas sarang sambil mengeluarkan suara melengking mengundang perhatian anaknya. Elang muda bergegas menuju ujung dahan yang paling tinggi. Saat itu pula, induk elang melepas hasil buruannya dari angkasa. Sang anak melesat dari dahan menyambut umpan yang melayang diangkasa itu. Gagal meangkap sering terjadi. Elang muda itu akan mencari oleh-oleh dari induk yang terhempas di lantai hutan.

Foto : Franz J.B (Duel dan berbagi mangsa di angkasa)

Saat anak elang telah pandai terbang. Induk akan mengajaknya terbang dan berburu bersama. Bagi mereka, hutan adalah meja makan. Satwa ini membutuhkan arena berburu seluas 50 – 160 km persegi. Mereka bebas mengincar menu apasaja yang singgah dalam kanopi hutan.

Berbagi mangsa di angkasa sungguh menjadi atraksi yang mengasyikkan. Ketika sang induk berhasil menyambar mangsa, ia akan menukik mendekati anaknya. Beberapa saat kemudian elang muda itu berusaha merebut mangsa yang berada dalam genggaman cakar sang induk. Cakar berkuku tajam mereka lalu saling terkait, menembus daging mangsa yang tak lagi bernyawa. Kedua elang itu sesaat berputar-putar di angkasa. Cara berebut makanan seperti ini wajib dipelajari oleh seekor elang muda. Saat ia beranjak dewasa, duel di angkasa berebut mangsa menjadi ritual harian.

Memangsa, dimangsa, bertahan dan duel adalah warna kental alam bebas (Franz J.B.)

Perlu diketahui

Warna bulu anak elang hitam itu berwarna cokelat. Berubah menjadi hitam bila elang tersebut telah berusia 3 – 4 bulan

Foto : Franz J.B. (Elang Hitam berusia 2 bulan)

Didukung oleh:

Informasi selengkapnya silakan klik menu Grana Photography

Posted by: agriculturesupercamp | July 4, 2008

Petak Umpet Gunung

Reuni Para Babi

Ritual out bond ini sangat jarang dilakukan. Saya dan kawan-kawan menyebut acara alam bebas ini sebagai “delikan gunung” alias petak umpet gunung.

Foto : Franz J.B. (Merapi Purba)

Dulu, aktifitas ini rutin saya lakukan setiap ujian semester usai. Sekarang kerap berlangsung saat libur tiba. Natal, tahun baru dan lebaran. Acara ini menjadi sebuah reuni bagi “Para Murid Babi Hutan”. Kami berkeliaran di hutan dan di gunung dengan anggota sebanyak 4 – 5 orang. Dibagi menjadi 2 kelompok.

Out bond semacam ini bukan out bond bagi orang-orang gedongan. Maklum logistik yang bersemayam dalam kantong kami cekak. Modalnya cuma tekad, kompak, fisik sehat dan akal sehat. Kegiatan ini bisa memakan waktu seminggu lamanya. Bahkan kami pernah singgah di bawah atap hutan selama 10 hari. Kalau sudah seperti ini, cara hidup kami berevolusi layaknya mahluk-mahluk dalam hutan lainnya. Mandi bukan lagi menjadi urusan primer. Tapi makan dan minum itu mutlak.

Menu dari kota dihidangkan secara berseling dengan menu hutan. Terkadang kami mengoplosnya. Indomie atau telur dadar diramu dengan sayur berupa tunas pakis. Rujak gunung. Julukan yang kami berikan untuk camilan berbahan batang tanaman begonia dan semanggi. Rasanya asam manis. Lumayan lezat dilalap bersama garam atau bumbu mie instan.

Sambutan meriah para babi

Di dalam rimba, guru kami adalah babi hutan. Binatang ini banyak ajarkan tata cara hidup, adat-istiadat yang dianut dan bertahan dalam hutan. Mereka gesit, kuat, dikaruniai indra penciuman dan naluri sangat tajam. Penduduk sebuah kampung di Karang Anyar, Lawu mengeramatkan mahluk malam ini.

Jobo Larangan, sebuah bukit di kaki Gunung Lawu. Penduduk setempat membangun sebuah arca babi hutan di atasnya. Dulu, bukit itu dianggap sakral dan keramat. Nama Jobo Larangan berasal dari dua buah kata. “Jobo” artinya berkunjung atau menjamah. Sementara “larangan” adalah dilarang. Jadi artinya daerah atau tempat yang dilarang untuk dikunjungi.

Hampir setiap lokasi memiliki mitos seperti itu. Kami selalu berusaha menghargai. Namun kami tak mau menelan mitos tersebut mentah-mentah. Di balik cerita mistik selalu tersimpan sebuah maksud LUHUR dari sang pencipta mitos (moyang).

Pesan-pesan arif bersifat metafisik seperti itu sering luput dari benak masyarakat. Banyak orang melihat sesuatu hanya dari segi fisik, atau yang tersurat. Sementara pesan metafisik diabaikan. Parahnya, pesan dan nilai bersifat metafisik itu sering disalah tafsirkan. Menjadi sebuah klenik atau kisah-kisah takhayul yang bodoh seputar hantu dan setan. Pola pikir sesat seperti inilah yang menjadi cikal-bakal runtuhnya alam di sekitar kita.

Foto : Franz J.B. (Sidoramping, Jobo larangan & mongkrang dari Lawu)

Lihat! hutan Jobo Larangan sekarang telah gundul. Karang Anyarpun longsor. Semua adalah buah yang harus dipanen. Sebab masyarakat tak lagi menghargai pesan-pesan arif yang tersirat dalam kisah “SILUMAN CELENG (BABI HUTAN)”

Jobo Larangan adalah bukit yang menghuni sebuah lembah raksasa di kaki Lawu. Di dalam lembah itu tersimpan harta karun. Mata air yang tak pernah kering. Moyang setempat menciptakan mitos siluman babi hutan agar masyarakat tidak serampangan keluar-masuk hutan. Apalagi merusak lingkungan di tempat itu. INILAH PESAN ARIF SESUNGGUHNYA YANG TERKANDUNG DALAM KISAH SILUMAN CELENG (BABI HUTAN) ITU. ROH DARI KISAH CELENG ITU MENJADI BENTENG SEKALIGUS PENJAGA KELESTARIAN HUTAN DI SANA.

Di sana, populasi babi hutan masih banyak. Ketika senja kian pekat, binatang bertaring panjang itu mulai beraktivitas. Sebaliknya, kami mengakhiri kegiatan dan bergegas mendirikan shelter. Saat api penghangat masih menyala, mamalia ini enggan mendekat. Suara melengkingnya bersautan dari semak di sekitar kami. Mereka menunggu giliran untuk ikut berpesta.

Ketika kami masuk ke dalam tenda, dan api penghangat padam, babi-babi itu mengambil alih posisi kami. Mereka bersantapria di tempat kami tadi melangsungkan pesta kecil. Mengganyang remah-remah makanan yang tertinggal. Itu sebabnya kami selalu menyediakan satu tenda khusus sebagai tempat penyimpanan logistik. Tas gunung berisi bekal wajib masuk dalam dum logistik. Bila dilalaikan, bisa dipastikan tas apes itu menjadi kosong melompong dengan kondisi compang-camping. Dijadikan obyek berebut menu para babi.

Bila belum terbiasa, beristirahat di antara hilir-mudik babi bisa membuat panik. Duk,duk,duk….. grok,grok,grok,… wus,wus,wus… bahasa kaum babi seperti itu sering terdengar melintas di dekat tenda dalam jarak amat dekat. Jika keberadaan mereka dirasa terlalu dekat, dan berperilaku anarkhis (berkelahi) pisau gunung wajib keluar dari sarung. Kami genggam sambil berbaring. Beristirahat dengan berselimut kewaspadaan. Kebiasan yang telah punah di perkotaan. Kamar ber AC, dan kasur busa selalu membius dan membuat kita lengah. Padahal, “mahluk buas” di kota lebih culas dari babi-babi yang berkeliaran di sekitar tenda kami.

Dari dalam tenda, kami hanya bisa menebak posisi babi melalui suara yang ia keluarkan. Namun tak perlu kuwatir, mereka sangat jarang nekad menyerang tenda. Asal, tidak ada suara berisik dalam tenda. Babi-babi itu hanya mengendus-endus cover tenda. Mungkin mereka mengucapkan selamat bertemu lagi, selamat malam dan beristirahat kepada kami. Mungkin juga mereka berkata, “bagi dong gank ransum atau oleh-olehnya dari kota”. Itu alasan yang membuat kami selalu meninggalkan sedikit menu di luar tenda untuk mereka.

Sekitar pukul 3 – 4 pagi, sengatan hawa dingin membujuk kami keluar dari tenda untuk menyalakan api. Posisi pesta kami ambil alih kembali. Jejak pesta pora babi semalam terlihat nyata di sekitar tenda. Kawanan babi itu selalu luput dari pandangan mata. Menyelinap dalam semak tanpa suara dan gerak. Lenyap di balik kabut pagi. Tidak lama kemudian, api menyala. Doping ampuh yang diramu dari madu lalu diseduh. Beberapa menit usai menegak dopping, sarapan siap dilahap.

Memulai permainan petak umpet

Situasi seperti yang terjadi di bukit Jobo Larangan tersebut biasanya kami alami menjelang pendakian. Di gunung lainpun kondisnya tak jauh berbeda. Cengkerama babi hutan bisa dijumpai saat masih singgah di base camp. Base camp biasanya berlokasi di titik start (titik koordinat yang dipilih untuk memulai petualangan)

Sebelum berpetualang, kami menentukan jalur pendakian. Jalur di pilih bukan jalur pendakian konvensional yang banyak dilalui pendaki pada umumnya. Jalur rutinitas babi hutan lebih kami pilih daripada jalur manusia. Sebab jalur seperti itu banyak menyimpan misteri dan pengalaman baru.

Foto : Franz J.B. (Kawan & tenda setia menunggu)

Kami memilih berdasar titik koordinat yang terdapat dalam peta topografi. Tiap kelompok memilih satu jalur. Rute tersebut akan bertemu di satu titik, beberapa puluh meter menjelang puncak. Andai saat diperjalanan tidak akurat membidik arah jarum kompas, kami tidak akan bertemu dengan kelompok lain di titik itu. Di sinilah letak serunya. Kami saling mencari posisi. Ceck and receck posisi antar kelompok kami lakukan melalui HT.

Ketika posisi menjadi semakin sulit dan telah melampaui waktu yang sudah direncanakan, biasanya kami memutuskan bertemu di puncak. Di atas gunung itu lalu kami mengoreksi jalur. Kelompok yang salah jalur alias menyeleweng diganjar hukuman memasak untuk kawan-kawan.

Makan bersama di alam yang dinaungi atap langit atau tajuk hutan seperti ini menjadi sebuah acara yang paling nikmat dan selalu merindukan bagi kami. Menu yang kami santap tidak ada yang tak enak. Yang ada enak dan sangat enak. Di situ rasa ego punah. Kami menyantap masakan dalam satu wadah secara bergiliran. Lauk yang tersedia kami bagi-bagi. Minum pun dalam satu rantang. Kalau tak biasa melakukan memang terasa jijik dan jorok. Namun, pikiran seperti itu sama sekali bukan menjadi menu yang disajikan dalam acara pesta mungil ini.

Foto : Franz J.B. (Lelap usai menghitung bintang)

Usai berjamu bersama, kami istirahat. Tenda kami dirikan. Namun, melepas malam di alam bebas adalah keputusan yang kurang bijak. Mengitung bintang dan menunggu meteor melintas menjadi menu hiburan utama. Di bawah, lampu kota nampak bertaburan bagai bintang. Terkadang kedip lampu itu terlihat malu. Mengintip dari balik awan. Tak jarang juluran lidah petir di antara awan menjadi bumbu penambah keindahan pemandangan tersebut. Kami bagaikan dewa. Duduk di atas awan, juluran lidah petir dan ribuan kepala manusia. Berbaring di antara taburan bintang dan kilatan meteor.

Di atas gunung udara sangat dingin. Kami mengusir kebekuan itu dengan duduk saling berhadapan dan berdempetan. Kaki kami julurkan dan disembunyikan di bawah kaki kawan lain. Ngobrol kesana-kemari. Saling cela dan ejek adalah suguhan yang sangat mengasyikkan.

Badai itu ternyata indah

Foto : Franz J.B. (Puncak-puncak lain menunggu)

Ketika badai gunung lewat, ritual alam seperti ini bukanlah menjadi peristiwa yang menakutkan bagi kami. Tenda kami lipat. Ponco kami buka. Kami bergegas mencari cerukan. Di sekeliling bibir cerukan itu kami menata carier/ tas gunung. Bentuknya menjadi sebuah benteng alamo. Di dalam cerukan itu kami saling berhimpit. Saling sodorkan makanan kecil. Dan yang jelas masih terus saling cela dan mengejek. Kalu tak ingin menjadi bulan-bulanan ejekan, maka jangan bersikap ego. Gurauan sangat penting untuk tangkis rasa takut dan panik. Kami sadar, rasa was-was cuma akan hancurkan kekompakan. Jadi kalau panik lebih baik tidur. Biasanya rasa panik sangat dekat dengan orang yang sedang dihinggapi rasa ego. Rasa ego tumbuh ketika fisik telah mulai melemah.

Kami turun dari puncak sesuai dengan jadwal waktu yang sudah disepakati. Kali ini tidak dipecah menjadi beberapa kelompok lagi. Kami turun bersama-sama. Sebab, kami tahu, perjalanan turun dari puncak mengandung risiko lebih banyak dari pada perjalanan naik menuju puncak. Kemungkinan tersesat dan salah jalan lebih besar.

Setelah sampai di perkampungan dan memasuk kembali dalam peradapan, kami segera bergegas mencari tempat berkubang “mandi” bersama. Biasanya di kali. Dalam acara itu, bukan lagi makanan yang kami pertukarkan. Namun, kami saling barter alat-alat perawat penampilan dan wewangian (kalau ada yang bawa). Namun ada juga yang tidak mau mandi. Saat seperti itu yang ada dalam otak kami adalah menu lezat dalam rumah makan atau warung vaforit kami. Kami saling beradu pendapat memilih lokasi makan bersama.

Pesta rimba telah usai (Franz J.B.)

Didukung oleh:

(Informasi selengkapnya klik menu grana photography)

.

Posted by: agriculturesupercamp | May 21, 2008

Terapi Lebah

Cara Nikmat Menuju Sehat

Bentengi tubuh Anda dengan zat antibodi. Pacu kandungan zat itu dengan apitherapy.

Anda menginginkan obat atau ramuan penjaga kesehatan yang lezat? Apiterahy pilihan tepat untuk hal tersebut. Mengkonsumsi madu, royal jelly, propolis dan poleh secara rutin, berarti secara tidak sadar Anda telah menjalani apitherapy. Sementara itu, kadar antibodi di dalam tubuh juga bisa dipacu dengan bee acupuncture.

Aman & berefek samping kecil

“Prinsip dasar apiterapy adalah menstimulus pembentukan zat antibodi. Tubuh memiliki kemampuan menyembuhkan dirisediri berkat terbentuknya zat antibodi. Jadi metoda terapi ini sangat aman. Sebab tidak melalui proses pemasukkan zat-zat beracun yang bisa tertimbun di dalam tubuh,”Papar Wima, ahli apiteraphy di Jakarta Timur.

Konsumsi madu, royal jelly, polen dan propolis secara rutin bisa meningkankan zat antibodi di dalam tubuh. Zat inilah yang bertugas menangkis serangan berbagai penyakit yang siap menggerogoti kesehatan Anda.

Peluang munculnya efeksamping akibat menjalani apitherapy sangat kecil. Menurut Wima, kemungkinan tersebut tidak lebih dari 1%. Efek samping hanya dialami oleh seseorang yang sensitif atau memiliki alergi. Itupun tidak berkibat fatal, mudah diatasi dan bisa tetap menjalani apiterphy.

Hasil racikan si Belang

Selama mempraktekkan apitherapy, Anda tak perlu repot-repot meracik ramuan. Semua bahan berkasiat yang Anda butuhkan telah diramu oleh si Belang. Lebah mengemas zat berkhasiat menjadi beberapa macam produk olahan.

Madu adalah bahan hasil racikan lebah yang terbuat dari nektar bunga. Sedangkan propolis dibuat dari beraneka getah tanaman. Royal jeli dihasilkan oleh kelenjar lebah pekerja yang masih muda. Sementara itu, bee polen merupakan produk yang dibuat dari kumpulan bermacam-macam serbuk sari bunga. Lebah juga menghasilkan racun berkhasiat. Racun itu bersumber dari kelenjar yang berada di sengatnya.

Berbagai bahan atau ramuan hasil cetakan lebah tersebut di atas memiliki khasiat berlainan. Anda bisa memilih sesuai dengan kebutuhan yang diinginkan. Atau, bisa meramu beberapa bahan menjadi satu agar lebih komplit dan memberikan hasil yang optimal serta seimbang terhadap kesehatan Anda.

Madu adalah bahan berkhasiat paling populer. Cairan kental menyerupai minyak goreng ini mengandung gula, vitamin B6, tiamin, riboflavin, kalsium, asam patogenik, tembaga, magnesium, mangan, besi, fosfor, potasium, sodium, seng, asam amino dan antioksidan.

Ramuan buah tangan lebah yang lain yaitu propolis. Bahan ini tidak begitu populer. Bersifat antibakteri, antivirus, antioksidan, antijamur, dan antiinflamantory. Propolis dapat menyembuhkan alergi, luka yang memborok, penyakit kulit, kanker, flu,bronchitis, gangguan telinga, dan sakit kepala.

Produk berkhasiat lain yang dihasilakan oleh lebah yaitu royal jeli. Wujudnya menyerupai susu. Sehingga sering juga disebut sebagai susu lebah. Cairan ini dihasilkan oleh kelenjar saliva yang dimiliki oleh lebah pekerja.

Royal jeli memiliki kemampuan mencegah dan mengobati kelelahan. Selain itu, cairan ini juga berkhasiat meredam asma serta menurunkan kandungan kolesterol dalam darah. Susu lebah juga sering dimanfaatkan sebagai salahsatu bahan peramu kosmetik. Terutama krim pengencang kulit.

Tawaran jasa baik lain dari lebah adalah polen. Benda mungil ini sering dimanfaatkan sebagai obat kuat. Para atlet olahraga sangat dianjurkan mengonsumsi polen sebagai nutrisi pendongkrak kekuatan. Polen juga memiliki kemampuan melancarkan metabolisme, membantu pencernaan, sebagai antioksidan dan ampuh menangkis kanker.

Masih Jarang Dianut

Apitherapy sebenarnya telah dikenal beribu-ribu tahun lalu. Bangsa Mesir telah menggunakan berbagai hasil sekresi lebah sebagai sarana penunjang kesehatan mereka. Semisal Madu. Raja-raja Mesir mempercayai bahwa cairan kental berwarna cokelat keemasan ini mengandung banyak manfaat serta berjuta khasiat.

Di negara kita, terapi lebah belum begitu populer. Terbukti dengan masih minimnya jumlah literatur serta hasil penelitian di bidang perlebahan. Obat-obat yang bersumber dari komponen-komponen lebah hanya dijajakan sebatas oleh pedagang obat tradisional. Padahal aneka hasil sekresi lebah telah banyak diteliti di luar negeri.

Proses produksi farmasi berbahan baku lebah di luar negeri sudah menjadi sebuah bidang industri besar. Bahkan, bidang kedokteran pun telah melegalkan terapi lebah sebagai salah satu teknik pengobatan. Negara terbesar pengembang terapi lebah adalah Cina. Di negara itu telah memiliki rumah sakit khusus terapi lebah. Saat ini WHO pun sudah mengakui bahwa serangga bersengat ini memiliki beragam zat yang bisa mencegah bahkan mengobati berbagai penyakit. Diantaranya diabetes, kanker, dan stroke.

Meski Indonesia telah memiliki rumah sakit khusus terapi lebah, namun keberadaannya masih sangat terbatas. Gaung apitherapy di dalam masyarakat masih terasa kalah dengan isu terapi alami yang dilakukan metoda metoda lain.

Ingin mendalami secara tuntas? Silakan menyimak dalam buku (Franz J.B.)


Posted by: agriculturesupercamp | January 26, 2008

Sikap Hidup Hijau

Sikap Hidup Hijau

Organis vs Egois

        Nyawa dari pertanian organis adalah “Sikap Hidup”.  Gaya hidup organis bukan hanya milik petani.  Demi kelesatarian alam, sikap seperti itu seharusnya kita miliki bersama.

green-micro-carpet-of-godtif.jpg

  Foto : Koleksi Franz J.B.

            Pola pikir sesat adalah racun ampuh penghancur semesta.  Kita tentu masih ingat dengan segala permainan yang pernah kita lakukan semasa kecil.  Berawal dari situ, manusia mulai menenggak sedikit-demisedikit racun kehidupan.  “Semangat saling mengalahkan dan membinasakan”.  Racun itu telah menjelma menjadi sebuah gaya hidup EGOIS.

            Mengapa dalam sebuah permainan harus selalu ada yang menang dan yang kalah?  Dengan kata lain harus ada satu yang hancur.  Tak adakah permainan yang memenangkan kedua belah pihak?  Saling mendukung dan tumbuh bersama.  Mungkin dunia ini akan semakin organis jika sejak awal kita bermain secara organis.

            Tak ada yang kalah.  Semua harus menang & untung.  Kerelaan untuk memberi dan melayani kepada sesama maupun mahluk lain adalah KUNCI HIDUP ORGANIS. Bila Anda ingin mendapat lebih banyak, berikanlah lebih banyak.

            Tersulah memupuk dan menanam (memupuk & menanam = memberi). Agar suatu saat Anda bisa memetik panen yang berlimpah (Franz J.B)

Posted by: agriculturesupercamp | January 26, 2008

Sikap Hidup Organis

Buku Harian Petani Organis

Seluruh Proses Harus Organis 

               Produk organis bukan sekedar produk nir pestisida.  Seluruh proses yang dilalui harus organis.  Dimulai dari proses produksi, pengolahan, pemasaran, sampai proses konsumsinya

petani-organis.jpg

Foto : Koleksi Franz J.B.

Foto ini menggambarkan takdir perputaran dunia.  Memberi dan menerima.  Cobalah putar gambar ini. Tangan yang berada di atas akan bergantian dengan tangan yang berada di bawah.  Itu artinya, berputar terus saling memberi dan menerima.

                     Tuliasan ini diambil dari sebuah kisah nyata seorang Petani Muda yang selalu ingin memperdalam pertanian organis.  Semoga kisah kecil ini bisa  menambah pemahaman kita pada pertanian organis

Pribadi petani harus organis

Langkah apa yang pertamakali harus dilakukan ketika kita akan membangun sebuah pertanian organis? Jawabanya sudah pasti bukan lahan yang terbebas dari pestisida.  Melainkan pembentukan kepribadian pertani yang organis. Hati egois harus dicongkel dan dicabut. Lalu ditanami lagi dengan hati baru yang bersifat Organis.

Pertengahan bulan Oktober 2002 Paguyuban Tani Lestari mengirim saya ke lereng barat Gunung Gede Panggrango.  Di sana saya bisa nyantrik dan lebih memperdalam ilmu pertanian organis.  Di kota asinan itu saya digembleng menjadi seorang petani organis.  Cara hidup sederhana, disiplin, efisien, efektif dan tercencana adalah norma utama hidup organis. 

Setiap pukul 5.30 pagi saya dan kawan-kawan harus sudah bangun dan mandi.  Pemakaian air tak boleh boros.  Jadi mandi harus dilakukan dengan cara wajar dan secukupnya.  Air buangan mandi dan bekas cucian wajib ditampung.  Setiap minggu sekali bak penampungan dikontrol.  Tugas ini dilakukan secara bergiliran. Setelah bak penampung penuh, kami bertugas menyiramkan limbah itu ke tanaman di sekitar asrama.  Lumayan, bisa jadi pupuk cair gratisan.

Seusai mandi,  kami harus segera bergegas sarapan dengan menu sederhana.  Sebagian besar menu yang dihidangkan berupa sayur bebas pestisida hasil jerih payah kami di kebun.  Semua makanan diolah dengan bumbu alami.  Segala bentuk penyedap rasa buatan diharamkan.  Untuk memenuhi kebutuhan gizi, disediakan menu bonus berupa tempe dan tahu.  Kedua menu itu dimasak dengan cara diiris tipis.  Saking tipisnya, kami menjuluki lauk tersebut sebagai “tempe 2 dimensi”.  Sebab hanya punya ukuran panjang dan lebar saja. 

Tak boleh ada sisa nasi sedikitpun dalam piring.  Sebab, kami sadar betul butiran nasi itu tak lain adalah penjelmaan dari butiran keringat kami di kebun.  Jadi, butiran nasi itu adalah bagian dari hidup kami.  Bila kami mengahargai butiran nasi,  artinya kami menghargai hidup dan jerih payah kami.  Rejeki pun akan selalu mengalir untuk kami.

Sisa makanan yang tak mungkin tercerna oleh perut, kami kumpulkan.  Misalnya yakni tulang belulang, duri ikan, tongkol sayur yang keras, kulit buah dan kulit kacang.  Barang tersebut masih bisa dikomposkan.  Lalu dimanfaatkan sebagai memupuk tanaman. Andai ini dilakukan semua orang, tentu tanah menjadi semakin subur, tak ada lagi timbunan sampah pemicu banjir.

                           Terkadang kami merasa sangat prihatin menyaksikan acara yang ditayangkan televisi.  Banyak adegan yang sama sekali tidak menghargai makanan.  Sebuah iklan produk menayangkan adegan roti yang jatuh dan diinjak-injak dan perlombaan yang menghabur-hamburkan makanan. Apakah semua itu adalah simbol dari sebuah budaya modern? Atau justru sebaliknya, sebuah keterbelakangan budaya?  Mungkin krisis di negara subur ini adalah sebuah akibat karena kita terlalu sering tidak menghargai makanan (rizki).

Setiap malam minggu kami berebut mencari posisi strategis di depan meja makan.  Sebab pada saat itu akan disuguhkan menu istimewa berupa daging ayam.  Kalau sudah begini soal pacarpun peduli setan.  Meski setiap hari menyantap menu sederhana, kami tetap sehat walafiat.  Hal yang lebih penting, sebuah nilai luhur organis telah ditanamkan di atas meja makan.  Semangat saling melayani dan rela berkorban telah tersantap secara tidak langsung melalui acara makan bersama.  Tradisi tersebut mungkin sudah punah di jaman serba “praktis” ini.

Proses produksi pun organis

                         Setelah sarapan kami harus segera meluncur menuju kebun.  Semua target dalam program kerja harus dicapai.  Setiap gejala dan peristiwa di kebun harus dicermati dan dicatat.  Kami dituntut agar dapat mengoptimalkan sekaligus mengembangkan potensi alam yang ada.  Segala asupan bahan baku dari luar ditekan seminimal mungkin.  Agar tidak menghasilkan limbah, kerja harus dilakukan secara cermat. 

                        Hal itu tak sebatas di soal pertanian saja.  Pembuatan bangunan harus direncanakan secara organis.  Setiap jengkal tanah punya nilai dan arti besar.  Air hujan harus bisa meresap kembali ke dalam perut bumi.  Sebagian besar bahan bangunan berasal dari sumberdaya alam yang tersedia.  Semisal batu dan pasir.  Di sana atap bangunan pun diberdayakan.  Kami tinggal di asrama beratap kebun sayur.  Andai hal serupa dilakukan banyak orang, tentu kita tak perlu takut kelaparan.  Harga sembako melambung pun kita tak khawatir.

                        Sebuah aliran sungai melintas di tengah kebun.  Airnya tak pernah kering.  Dari sungai itu kami berhasil membangun sebuah pembangkit listrik.  Bangunan pembangkit listrik dan bendungan dibangun dari susunan batu yang kami kumpulkan dari seluruh penjuru kebun.  Hanya semen dan tulang besi saja yang kami “impor” dari luar kebun. 

                       Semua pekerjaan di kebun harus sesuai dengan rencana yang sudah disusun.  Harus rapi, tanpa sisa terbuang percuma (sama seperti saat kami makan).  Kebutuhan pupuk kandang, benih, dan bibit sudah ditakar pas.  Hasil panen pun sudah ditarget.  Tak boleh meleset.  Sisa tanaman hasil proses pemanenan dimanfaatkan sebagai kompos.

                       Kami sangat menghormati semua mahluk yang tinggal dalam kebun.  Bagi kami, tanah adalah asal mula kehidupan.  Tanah adalah rahim seluruh mahluk hidup.  Ketika kita meracuni tanah itu berarti kita memasukkan racun dalam tubuh kita.  Hal itu juga berlaku untuk air.  Mencemari aliran parit dengan racun, berarti meracuni aliran darah dalam urat nadi kita. Tanah adalah tubuh kita, sedang air adalah darah kita.

                       Sebagai petani organis, tugas kami di kebun adalah melayani seluruh unsur lingkungan yang ada.  Sebab dengan demikian, kami percaya mereka akan melayani  dan merawat hidup kita pula secara baik.

                       Kami menanam beraneka sayur di atas bed.  Dalam pertanian konvensional bed adalah singkatan untuk bedengan (bidang tempat bercocok tanam).  Di kebun kami, istilah itu tak berlaku.  Kami memiliki istilah sendiri yang berbeda dan lebih layak bagi para tanaman.  Bed adalah “tempat tidur” bukan bedengan.  Tempat tidur untuk tanaman.  Jadi bed harus selalu dalam kondisi nyaman.  Layaknya tempat tidur kita.  Kami dilarang keras menginjak bed.  (Logikanya, hal itu bisa membuat tanah jadi keras). Di atas bed itu tanaman harus disayang. Kalau semua ini telah dilakukan secara benar, tak mustahil tanaman akan memberi hadiah yang berlimpah kepada kita.

                      Tanah di kebu pantang telanjang.  Sengatan terik matahari bisa membuat tanah manjadi “Mati” (tanah tanpa kehidupan = tanah mati).  Cangkul, bajak dan traktor adalah benda haram di kebun kami.  Sebab, benda-benda itu bisa membunuh aneka binatang dalam tanah.  Kami mengolah tanah dengan bantuan garpu. Tanah tak boleh dibolak-balik. Hanya diangkat saja.  Supaya udara segar bisa masuk kedalam tanah.

                      Tanah di kebun tak boleh kecapaian.  Pola tanam harus diatur.  Jenis tanaman harus digilir. Periode pertama tanah ditanami dengan jenis tanaman sayur daun (leafy),  periode berikutnya ditanami dengan sayur buah (fruit), giliran berikutnya adalah tanaman sayur golongan akar (root) misalnya wortel, beet, dan lobak.  Setelah semua jenis tanaman mendapat giliran, berarti tanah harus diistirahatkan.  Selama periode ini bed ditanami dengan tanaman golongan soil builder alias tanaman kacang-kacangan.  Flora ini mempu mengembalikan kesuburan tanah.

                      Ada beberapa unit kerja dalam kebun kami.  Yakni penyedia benih, penyedia pupuk, pembibitan, Instalasi kebun, Riset atau penelitian,  bagian produksi, pengemasan, dan pemasaran. Setiap unit harus mampu menghidupi diri sendiri dan juga menghidupi unit lain yang berkaitan.  Unit-unit usaha ini tersusun rapi. Terorganisir secara organis.  Lakyaknya tubuh mahluk hidup (organisme).  Tiap organ mampu memberi kehidupan dan salaing melayani kepada organ tubuh yang lain.  Seperti inilah mekanisme kerja pertanian organis di kebun kami.  

Jalur pasar organis

                      Jadi pertanian organis itu bukan hanya urusan antipestisida saja.  Tapi sangat luas. Bahkan, sampai urusan purna jual pun kami memiliki idealisme organis.  Kami selalu mengharapkan agar konsumen di pasar juga bisa bersifat organis.  Terutama bagi distributor. Mereka sudah selayaknya memasarkan produk pertanian organis secara organis pula. 

Kondisi pasar harus organis.  Pasar seperti itu harus bisa saling menguntungkan (memberi keuntungan). Bagi kami, sebuah produk tak bisa dikatakan sebagai produk organis tanpa melalui jalur pemasaran yang organis pula.  Sekalipun produk itu nir pestisida.  SELURUH PROSES HARUS BERSIFAT ORGANIS.

                     Tepat pukul 5 sirine panjang mengalun.  Itu berarti acara berjemur di kebun telah usai.  Selepas bekerja keras kami diberi waktu untuk melepas lelah,  makan dan mandi.  Pada pukul 7 kami harus melakukan evaluasi sekaligus menyusun agenda kerja untuk esok hari. 

                      Seusai mendiskusikan segala problem di kebun, kami diberi kesempatan 1 jam  bersantai.  Melihat TV. Itu saja bukan acara TV konvensional yang disiarkan oleh stasiun televisi.  Kami hanya diperkenankan menyaksikan VCD ilmu pengetahuan.  Terutama yang ada kaitannya dengan mahluk dan lingkungan hidup.  Sebagai obat capek, sekeping coklat dari Swiss dibagi kepada kami. Cokelat itu harus kami cuil-cuil dan dibagikan sampai merata.  Jumlah sedikit tak masalah.  Kami puas karena rasa kebersamaan yang selalu tumbuh subur.  Berkorban, melayani dan memberi adalah roh pertanian organis. Tepat pukul 10 kami harus sudah masuk ke dalam ruang tidur. Mimpi indah KEHIDUPAN ORGANIS pun hadir kembali.

                     Hidup memang harus selalu memberi dan melayani (Franz J.B.).

  

Posted by: agriculturesupercamp | January 26, 2008

Nasib Tragis Pertanian Organis

Nasib Tragis Pertanian Organis

               Dalam upaya mewujudkan kearifan terhadap lingkungan, Akhir-akhir ini Pertanian Organis banyak dilirik orang.  Namun patut disayangkan bahwa masih banyak orang belum bisa secara tepat memahaminya.  Nilai-nilai luhur yang terkandung di dalam filosofi Pertanian Organis sering terabaikan.  

nasib-tragis.jpg

Foto : Koleksi Franz J.B.

Foto hanya sebatas ilustrasi.  Seusai pemotretan, jeruk tetap penulis manfaatkan.  Jijik & jorok kan hanya masalah kesan saja.  Masih manis kok hehehe. Dibuang sayang.  Kalau dibuang berarti tak organis.  

                Kini telah tiba waktunya kita harus memperluas cakrawala pandang tentang pertanian organis. Kita senantiasa dituntut bersikap kritis sekaligus selalu terbuka untuk belajar dalam praktek Pertanian Organis. Bahkan kita harus rela belajar cara hidup organis petani desa yang selama ini sering dipandang sebagai simbol kemiskinan dan ketertinggalan.

Kapitalis menjelma sebagai organis                 

                Produk pertanian organis tentu sudah tidak asing lagi bagi warga masyarakat kota. Seiring dengan semakin santernya pemberitaan tentang pencemaran lingkungan, minat orang mengkonsumsi produk pertanian organispun kian meningkat. Orang semakin kritis terhadap produk industri modern yang diolah menggunakan bahan kimia.                Di bidang pangan orang semakin berhati-hati memilih bahan pangan yang akan mereka makan.  Dalam hal ini banyak alternatif yang mereka pilih dengan cara menyantap produk pertanian organis.  Dengan menyantap produk pertanian organis, mereka beranggapan bahwa pilihan tersebut adalah cara menuju hidup sehat.                Indikasi semakin meluasnya kebutuhan konsumsi masyarakat terhadap makanan sehat lewat produk pertanian organis khususnya di wilayah perkotaan semakin menguat (KOMPAS, 17 Oktober 2004).  Perkembangan ini semestinya patut kita syukuri. 

               Dunia bisnis beserta para pelaku bisnis yang memiliki kepekaan indera untuk mengendus munculnya suatu peluang tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.  Boleh dikata para pelaku bisnis telah mulai menggarap sektor pertanian organis mulai dari bagian hilir hingga ke hulu. 

               Meski masih dengan sikap keberhati-hatian yang cukup tinggi dalam berinvestasi semakin banyak saja investor memasuki ladang bisnis ini.

               Perkembangan menggembirakan itu pantas kita sambut.  Seiring dengan dinamika tersebut, serangkaian pertanyaan kritis perlu kita jawab.  Akankah praksis Dunia Bisnis yang banyak tunduk pada dalil-dalil Ekonomi dan Pasar bisa berjalan seiring dengan prinsip-prinsip Ekologi?  Dunia Bisnis berangkat dari prinsip “pertumbuhan dan akumulasi”, sedangkan Ekologi tidak bisa dipisahkan dari prinsip “Keseimbangan”.  

               Untuk menjawab pertanyaan awal ini saja bukan perkara yang gampang.  Ketika produk pertanian organis mulai banyak dikonsumsi orang, tidak kita sadari “label organik” telah menjadi komoditas.  Ada kecenderungan untuk memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat,  produk pertanian organis dibudidayakan secara massal, efisien dalam proses sekaligus bertampilan fisik memikat. Kalau sudah demikian “label organis” tinggallah sebuah label yang tidak lagi bermakna.  Yang terjadi adalah pengelabuhan konsumen atas nama “label organis”

Revolusi Hijau Jilid 2 

               Dalam memenuhi kebutuhan saprotan (sarana produksi pertanian) kini tidak jarang kita jumpai produk berlabel organik.  Padahal saprotan tersebut jelas-jelas zat pembunuh (dalam ilmu kimia, senyawa yang memiliki cincin unsur karbon termasuk golongan senyawa organik).  Semisal pestisida Endrin, Furadan, Sevin, Malation dan Dinex. Disamping itu, banyak perusahan berorientasi provit turut berlomba-lomba menggelar pelatihan dan kursus bertema pertanian organis.  Oleh sebab itu, sungguh merupakan PR yang tidak mudah bagi Departemen Pertanian yang terdengar santer akan mengeluarkan peraturan penggunaan label organik. 

               Apabila berbagai fenomena yang menunjukkan semakin bergairahnya bisnis pertanian organis tersebut terus dibiarkan tanpa kendali, niscaya akan timbul berbagai dampak negatif. 

               Pertama, Pertanian Organis tidak mustahil bakal menjadi Revolusi Hijau Jilid II.  Kendatipun dalam skala lebih kecil.  Pertanian Organik akan dikuasai oleh segelintir pebisnis bermodal kuat yang saling sikut berebut label organik.  Proses perlahan namun pasti ini akan membawa Pertanian Organik menjadi alat pengeruk keuntungan yang mengabdi kepada kepentingan pemilik modal kuat.Dengan demikian bisa diramalkan bahwa eksploitasi sumber daya alam secara “habis-habisan”akan terus berlanjut.   

               Kedua, nasib petani “gurem” yang nota bene merupakan mayoritas petani di negeri ini akan tetap gigit jari.  Mereka tetap menjadi budak-budak pelaksana tanpa daya dalam usaha tani yang mereka lakukan. 

               Ketiga, Pertanian Organik akan semakin jauh dari semangat filosofi yang mendasarinya.  Pertanian Organik bukan sekedar berbicara soal teknis pengolahan lahan, bukan sekedar soal penganekaragaman tanaman dan pemuliaan bibit, bukan sekedar antipupuk kimiawi, penggunaan pestisida dan demo rame-rame menentang “penjajahan terselubung” di sektor pertanian. 

               Semangat falsafah “Organis” tidak semata-mata berlaku di dunia pertanian saja.  Ajaran Organis bisa diterapkan di setiap aspek kehidupan sosial, ekonomi, budaya maupun politik.  Dengan demikian konsep Pertanian Organis sesungguhnya hanyalah “pemicu awal” terselenggaranya tatanan kehidupan organis yang bermuara pada keselamatan dan kelestarian alam semesta. 

               Pilihan terhadap gerakan pertanian organis merupakan salah satu langkah taktis menerobos kekalahan demi kekalahan para petani sampai saat ini.  Usaha memajukan gerakan ini jelas tidak akan semulus yang kita duga.  Dari sisi kajian dan perhitungan di atas meja, pertanian organis jelas memberikan keuntungan strategik dalam semua aspek (perekonomian rakyat, pelestarian lingkungan, konservasi sumber daya alam).  Dengan demikian logika normal akan mengatakan bahwa dukungan secara tulus terhadap gerakan ini wajib kita lakukan.  Dalam hal ini teristimewa faktor-faktor kebijakan umum dan sosio politik sangat menentukan arah pengembangan sistem pertanian sebagai unsur pengembangan ekonomi (Notohadiprawiro, 1992)

               Pesan luhur Organis bisa gambarkan sebagai kesatuan tubuh manusia yang organis.  Dalam bahasa dan ungkapan yang sederhana bisa katakan bahwa setiap bagian tubuh akan berfungsi dengan baik apabila rela melayani bagian tubuh lain.  Hal ini berproses secara timbal balik.  Kehancuran dan bahkan ajal akan dituai jika kesatuan tubuh yang organis itu tidak kompak dan enggan saling melayani. 

               Pertanian Organis  bisa digambarkan secara sederhana.  Ketika perut merasa lapar, tangan wajib memberikan makan lewat mulut.  Mulut akan menerima rasa nikmat dari santapan.  Namun setelah itu mulut wajib meneruskan dan memberikan rasa kenyang kepada perut.  Perut dengan seluruh organ yang dimilikinya wajib memproses makanan tersebut menjadi sumber enerji seluruh tubuh, termasuk di dalamnya untuk tangan.  Dengan demikian tangan bisa melaksanakan tugasnya lagi.  

               Itulah Organis!  (Franz J.B)

Posted by: agriculturesupercamp | January 26, 2008

Tanaman Indoor Antipolutan

Indoor Plant

Tangkis Renggutan Gas Polutan

               Meski mungil, dua helai daun tanaman antipolutan sanggup menyokong 1500 liter udara bersih untuk Anda selama 24 jam non-stop. Mereka juga siap membetengi paru-paru dari renggutan gas polutan. 

tanaman-indoor.jpg

Foto : Koleksi Franz J.B.

Sansivieria sangat efektif digunakan sebagai tanaman indoor antipolutan

              “ Sick Building Syndrome”, itulah julukan “keren” bagi penyakit yang kerap menerjang penguni kantor. Sekerean apa pun namanya, tetap saja penyakit. Ditandai dengan gejala hidung meler, kepala pusing , perut mual, hingga badan lemas. Jika kondisi itu rutin dialami setiap hari, tak pelak berbagai penyakit kronis pasti dituai. 

              Menurut Yayat Supriyatna dosen Planologi Universitas Trisakti Jakarta, setiap 1000 orang penduduk Ibu Kota butuh ruang hijau seluas 0,95 ha. Artinya, setiap kepala menghendaki dukungan hidup dari helaian daun seluas 9,5 m². Jika dirata-rata, besaran itu kira-kira sama dengan luas daun Aglaonema sebanyak 1 pot.

Polutan sebagai ancaman

              Pencemaran udara tak hanya keluar dari cerobong asap maupun kenalpot kendaraan di jalan raya. Seperti musuh dalam selimut, senyawa berbahaya juga banyak bergentayangan di dalam ruangan atau kantor. Senyawa itu mudah terhirup hidung saat kita bersantai maupun bekerja. 

              Banyak benda di dalam kantor dan rumah yang bisa menjadi sumber gas beracun. Semisal lapisan plitur, cat dan vernis pembalut meja-kursi antik kesayangan Anda. Bukan itu saja, tisu, kertas, kayu lapis, cairan pembersih, asap rokok, uap tinta, uap lem, plastik, detergen beserta remukan fiber glass juga bisa menjadi sumber gas polutan berisiko tinggi.

              Gas polutan itu banyak macamnya. Contoh, Formaldehyde, amonia, benzena, Karbon monoksida, xylene, dan trichloroethylene. Mereka bisa memicu segudang penyakit. Iritasi lapisan membran mucous (kelenjar dalam mulut), gangguan saluran pernafasan, radang tenggorokan dan astma kerapkali disebabkan oleh formaldehyde. Sementara itu, Trichloroethylen bersifat karsinogenik, alias biang penyebab kanker. Terutama kanker hati.

             Takut, atau tak mau tahu karena takut itu bukan jalan keluar terbaik. Apalagi harus menutup hidung dengan masker di ruang kerja. Aneka macam jenis tanaman antipolutan siap dipekerjakan sebagai “cleaning sevice” yang senantiasa rajin menyedot polutan di rumah maupun di kantor Anda.

Agen Sedot Hayati

             Ada banyak jenis tanaman indoor yang bisa Anda karyakan sebagai penolak polutan. Mereka memiliki spesialisasi sedot berlainan. Pakis boston, bambu, palem, Philodendron, dan Sansevieria adalah ahli sedot polutan yang berasal dari senyawa formaldehyde

             Serahkan problem gas beracun yang bersumber dari senyawa trichloroethylen kepada tanaman gebera, krisan dan Dracena deremansis atau bambu rejeki. Sementara itu, Chlorophytum cosmosum vitatum alias lili paris, dan palem adalah tukang sedot sepesialis gas xylene.

             Tiap tanaman antipolutan punya teknik sedot berlainan. Nephrolepis exaltata ‘Bostoniensis’ atau pakis boston menggunakan stomata sebagai “facum cleaner” untuk penyedot aneka gas beracun. Piranti renik itu banyak tersebar di bawah helaian daun. Gas beracun yang telah diserap stomata akan memasuki sistim metabolisme dalam tubuh Si paku boston. Di sana, gas penuh bahaya itu dirombak dan disulap menjadi zat bermanfat. 

             Hasil perobakan lalu dikirim menuju zona perakaran. Olahan berbahan baku racun itu sebagian disuguhkan kepada bakteri yang nebeng di akar. Hidangan itu tak membuat para bakteri binasa. Sebab, mahluk miskroskopis tersebut memang hobi menyantap menu seperti itu. Bahkan ketika jatah ransum tak kunjung diberikan, bakteri pun secara swadaya mampu mengurai zat polutan menjadi makanan pokok harian. Teknik hisap polutan serupa juga dilakukan oleh Sansevieria, wali songo, Draceana, krisan, dan gerbera.

            Metoda sedot lain dilakukan oleh sirih belanda. Polutan yang telah dihisap melalui stomata akan diteruskan masuk melalui sitosol menuju vakuola (ruang sel yang berisi cairan). Teknik sedot ini sangat efektif untuk menyapu pencemaran logam berat. Semisal Cd, Zn, Mn, dan Hg. Keajaiban itu terjadi berkat adanya perpindahan protein (antiporter) yang menukar proton dengan ion metal. Kondisi ini terjadi bila logam berat telah terakumulasi di dalam vakuola dan sitosol. 

            Aglaonema memiliki trik hisap tersendiri. Media tanam beserta daun tanaman keluarga Araceae ini banyak mengeluarkan uap air. Kondisi seperti itu mengakibatkan udara dalam ruangan menjadi lembap. Selain uap, Aglaonema juga rajin menyemprotkan senyawa yang dinamai phytochemical. Zat ini berkhasiat untuk menekan pertumbuhan sepora jamur dan bakteri merugikan dalam ruangan. 

            Hasil penelitian Associated Landscape Contractors of America menemukan bahwa phytochemical mampu menekan populasi bakteri dan spora jamur merugikan hingga 50 -60%. Di alam, hal seperti itu terjadi sebagai salah satu mekanisme tumbuhan untuk bertahan dan melindungi diri dari serangan pathogen.

            Unjuk kerja dan kapasitas sedot tiap tanaman pun berlainan. Ronald Wood, peneliti dari Urban Horticulture Unit, University of technology Sydney mengungkap bahwa tanaman krisan mampu mengurangi gas polutan yang gentayangan di dalam ruangan sebanyak 90%. Agar dicapai hasil maksimal, ruangan seluas 30m² dibutuhkan tanaman krisan sebanyak 2 – 3 pot.

            Pakis boston sanggup menyikat habis formaldehid sebesar 1800 mikrogram setiap hari. Tanaman saudara dekat suplir ini juga mampu menyerap polutan yang bersumber dari senyawa xylene sebanyak 208 mikrogram setiap jam. Supaya efisien, dianjurkan menanam paku boston sebanyak 2 pot untuk ruangan seluas 30m² .

            Sirih belanda (Epipremnum aureum) termasuk salah satu tanaman anti- polutan berkapasitas penyerapan besar. Tumbuhan merambat berdaun kuning ini mampu meredam 53% dari total benzena sebesar 0,156 ppm per hari. Sirih belanda juga sanggup menekan 67% dari total formaldehid 18 ppm dan 75% dari total Karbon monoksida sebesar113 ppm.

             Seusai menyerap polutan dalam jumlah banyak, daun akan mengalami kejenuhan. Daya sedot daun semakin menurun seiring kian uzurnya usia daun yang bersangkutan. Nah, daun tua seperti itu wajib dicukur. Tujuannya supaya daun muda lekas tumbuh kembali.

             Udara sehat pun senantiasa bisa Anda nikmati (Franz J.B.).

Aneka Tukang Sedot Polutan

Paku Boston Nephrolepis exaltata Bostoniensis Penyerap paling ampuh

Palem Chyrsalidocarpus lutescens Penyerap banyak polutan

Palem bambu Chemaedorea seifrizii Formaldehid, benzena, Trichloroethylene, dan Penguapan tinggi

Karet hias Ficus robusta Formaldehid

Dracaena  Draceana deremensis Formaldehid

Ivy Hedera helix Formaldehid

Palem phoenix  Phoenix roebelenii Xylene

Lili air Spathiphyllum sp Alkohol, aseton, Formaldehid, Benzene, Trichloroethylene

Dracaena Dracaena fragans massangeana Formaldehid

Sirih Belanda Epipremnum aureum Formaldehid

Paku Neprolepis obliterata Formaldehid, alkohol

Krisan Chrysanthemum morifolium Formaldehid, benzene, Ammonia.Gerbera Gerbera jamesonii Transpirasi tinggi

Dracaena Dracaena deremensis warneckei Benzene

Dracaena Dracaena marginata Xylene dan Trichloroethylene 

Schefflera Brassaia actinophylla Formaldehid.

Older Posts »

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.