Posted by: agriculturesupercamp | July 4, 2008

Petak Umpet Gunung

Reuni Para Babi

Ritual out bond ini sangat jarang dilakukan. Saya dan kawan-kawan menyebut acara alam bebas ini sebagai “delikan gunung” alias petak umpet gunung.

Foto : Franz J.B. (Merapi Purba)

Dulu, aktifitas ini rutin saya lakukan setiap ujian semester usai. Sekarang kerap berlangsung saat libur tiba. Natal, tahun baru dan lebaran. Acara ini menjadi sebuah reuni bagi “Para Murid Babi Hutan”. Kami berkeliaran di hutan dan di gunung dengan anggota sebanyak 4 – 5 orang. Dibagi menjadi 2 kelompok.

Out bond semacam ini bukan out bond bagi orang-orang gedongan. Maklum logistik yang bersemayam dalam kantong kami cekak. Modalnya cuma tekad, kompak, fisik sehat dan akal sehat. Kegiatan ini bisa memakan waktu seminggu lamanya. Bahkan kami pernah singgah di bawah atap hutan selama 10 hari. Kalau sudah seperti ini, cara hidup kami berevolusi layaknya mahluk-mahluk dalam hutan lainnya. Mandi bukan lagi menjadi urusan primer. Tapi makan dan minum itu mutlak.

Menu dari kota dihidangkan secara berseling dengan menu hutan. Terkadang kami mengoplosnya. Indomie atau telur dadar diramu dengan sayur berupa tunas pakis. Rujak gunung. Julukan yang kami berikan untuk camilan berbahan batang tanaman begonia dan semanggi. Rasanya asam manis. Lumayan lezat dilalap bersama garam atau bumbu mie instan.

Sambutan meriah para babi

Di dalam rimba, guru kami adalah babi hutan. Binatang ini banyak ajarkan tata cara hidup, adat-istiadat yang dianut dan bertahan dalam hutan. Mereka gesit, kuat, dikaruniai indra penciuman dan naluri sangat tajam. Penduduk sebuah kampung di Karang Anyar, Lawu mengeramatkan mahluk malam ini.

Jobo Larangan, sebuah bukit di kaki Gunung Lawu. Penduduk setempat membangun sebuah arca babi hutan di atasnya. Dulu, bukit itu dianggap sakral dan keramat. Nama Jobo Larangan berasal dari dua buah kata. “Jobo” artinya berkunjung atau menjamah. Sementara “larangan” adalah dilarang. Jadi artinya daerah atau tempat yang dilarang untuk dikunjungi.

Hampir setiap lokasi memiliki mitos seperti itu. Kami selalu berusaha menghargai. Namun kami tak mau menelan mitos tersebut mentah-mentah. Di balik cerita mistik selalu tersimpan sebuah maksud LUHUR dari sang pencipta mitos (moyang).

Pesan-pesan arif bersifat metafisik seperti itu sering luput dari benak masyarakat. Banyak orang melihat sesuatu hanya dari segi fisik, atau yang tersurat. Sementara pesan metafisik diabaikan. Parahnya, pesan dan nilai bersifat metafisik itu sering disalah tafsirkan. Menjadi sebuah klenik atau kisah-kisah takhayul yang bodoh seputar hantu dan setan. Pola pikir sesat seperti inilah yang menjadi cikal-bakal runtuhnya alam di sekitar kita.

Foto : Franz J.B. (Sidoramping, Jobo larangan & mongkrang dari Lawu)

Lihat! hutan Jobo Larangan sekarang telah gundul. Karang Anyarpun longsor. Semua adalah buah yang harus dipanen. Sebab masyarakat tak lagi menghargai pesan-pesan arif yang tersirat dalam kisah “SILUMAN CELENG (BABI HUTAN)”

Jobo Larangan adalah bukit yang menghuni sebuah lembah raksasa di kaki Lawu. Di dalam lembah itu tersimpan harta karun. Mata air yang tak pernah kering. Moyang setempat menciptakan mitos siluman babi hutan agar masyarakat tidak serampangan keluar-masuk hutan. Apalagi merusak lingkungan di tempat itu. INILAH PESAN ARIF SESUNGGUHNYA YANG TERKANDUNG DALAM KISAH SILUMAN CELENG (BABI HUTAN) ITU. ROH DARI KISAH CELENG ITU MENJADI BENTENG SEKALIGUS PENJAGA KELESTARIAN HUTAN DI SANA.

Di sana, populasi babi hutan masih banyak. Ketika senja kian pekat, binatang bertaring panjang itu mulai beraktivitas. Sebaliknya, kami mengakhiri kegiatan dan bergegas mendirikan shelter. Saat api penghangat masih menyala, mamalia ini enggan mendekat. Suara melengkingnya bersautan dari semak di sekitar kami. Mereka menunggu giliran untuk ikut berpesta.

Ketika kami masuk ke dalam tenda, dan api penghangat padam, babi-babi itu mengambil alih posisi kami. Mereka bersantapria di tempat kami tadi melangsungkan pesta kecil. Mengganyang remah-remah makanan yang tertinggal. Itu sebabnya kami selalu menyediakan satu tenda khusus sebagai tempat penyimpanan logistik. Tas gunung berisi bekal wajib masuk dalam dum logistik. Bila dilalaikan, bisa dipastikan tas apes itu menjadi kosong melompong dengan kondisi compang-camping. Dijadikan obyek berebut menu para babi.

Bila belum terbiasa, beristirahat di antara hilir-mudik babi bisa membuat panik. Duk,duk,duk….. grok,grok,grok,… wus,wus,wus… bahasa kaum babi seperti itu sering terdengar melintas di dekat tenda dalam jarak amat dekat. Jika keberadaan mereka dirasa terlalu dekat, dan berperilaku anarkhis (berkelahi) pisau gunung wajib keluar dari sarung. Kami genggam sambil berbaring. Beristirahat dengan berselimut kewaspadaan. Kebiasan yang telah punah di perkotaan. Kamar ber AC, dan kasur busa selalu membius dan membuat kita lengah. Padahal, “mahluk buas” di kota lebih culas dari babi-babi yang berkeliaran di sekitar tenda kami.

Dari dalam tenda, kami hanya bisa menebak posisi babi melalui suara yang ia keluarkan. Namun tak perlu kuwatir, mereka sangat jarang nekad menyerang tenda. Asal, tidak ada suara berisik dalam tenda. Babi-babi itu hanya mengendus-endus cover tenda. Mungkin mereka mengucapkan selamat bertemu lagi, selamat malam dan beristirahat kepada kami. Mungkin juga mereka berkata, “bagi dong gank ransum atau oleh-olehnya dari kota”. Itu alasan yang membuat kami selalu meninggalkan sedikit menu di luar tenda untuk mereka.

Sekitar pukul 3 – 4 pagi, sengatan hawa dingin membujuk kami keluar dari tenda untuk menyalakan api. Posisi pesta kami ambil alih kembali. Jejak pesta pora babi semalam terlihat nyata di sekitar tenda. Kawanan babi itu selalu luput dari pandangan mata. Menyelinap dalam semak tanpa suara dan gerak. Lenyap di balik kabut pagi. Tidak lama kemudian, api menyala. Doping ampuh yang diramu dari madu lalu diseduh. Beberapa menit usai menegak dopping, sarapan siap dilahap.

Memulai permainan petak umpet

Situasi seperti yang terjadi di bukit Jobo Larangan tersebut biasanya kami alami menjelang pendakian. Di gunung lainpun kondisnya tak jauh berbeda. Cengkerama babi hutan bisa dijumpai saat masih singgah di base camp. Base camp biasanya berlokasi di titik start (titik koordinat yang dipilih untuk memulai petualangan)

Sebelum berpetualang, kami menentukan jalur pendakian. Jalur di pilih bukan jalur pendakian konvensional yang banyak dilalui pendaki pada umumnya. Jalur rutinitas babi hutan lebih kami pilih daripada jalur manusia. Sebab jalur seperti itu banyak menyimpan misteri dan pengalaman baru.

Foto : Franz J.B. (Kawan & tenda setia menunggu)

Kami memilih berdasar titik koordinat yang terdapat dalam peta topografi. Tiap kelompok memilih satu jalur. Rute tersebut akan bertemu di satu titik, beberapa puluh meter menjelang puncak. Andai saat diperjalanan tidak akurat membidik arah jarum kompas, kami tidak akan bertemu dengan kelompok lain di titik itu. Di sinilah letak serunya. Kami saling mencari posisi. Ceck and receck posisi antar kelompok kami lakukan melalui HT.

Ketika posisi menjadi semakin sulit dan telah melampaui waktu yang sudah direncanakan, biasanya kami memutuskan bertemu di puncak. Di atas gunung itu lalu kami mengoreksi jalur. Kelompok yang salah jalur alias menyeleweng diganjar hukuman memasak untuk kawan-kawan.

Makan bersama di alam yang dinaungi atap langit atau tajuk hutan seperti ini menjadi sebuah acara yang paling nikmat dan selalu merindukan bagi kami. Menu yang kami santap tidak ada yang tak enak. Yang ada enak dan sangat enak. Di situ rasa ego punah. Kami menyantap masakan dalam satu wadah secara bergiliran. Lauk yang tersedia kami bagi-bagi. Minum pun dalam satu rantang. Kalau tak biasa melakukan memang terasa jijik dan jorok. Namun, pikiran seperti itu sama sekali bukan menjadi menu yang disajikan dalam acara pesta mungil ini.

Foto : Franz J.B. (Lelap usai menghitung bintang)

Usai berjamu bersama, kami istirahat. Tenda kami dirikan. Namun, melepas malam di alam bebas adalah keputusan yang kurang bijak. Mengitung bintang dan menunggu meteor melintas menjadi menu hiburan utama. Di bawah, lampu kota nampak bertaburan bagai bintang. Terkadang kedip lampu itu terlihat malu. Mengintip dari balik awan. Tak jarang juluran lidah petir di antara awan menjadi bumbu penambah keindahan pemandangan tersebut. Kami bagaikan dewa. Duduk di atas awan, juluran lidah petir dan ribuan kepala manusia. Berbaring di antara taburan bintang dan kilatan meteor.

Di atas gunung udara sangat dingin. Kami mengusir kebekuan itu dengan duduk saling berhadapan dan berdempetan. Kaki kami julurkan dan disembunyikan di bawah kaki kawan lain. Ngobrol kesana-kemari. Saling cela dan ejek adalah suguhan yang sangat mengasyikkan.

Badai itu ternyata indah

Foto : Franz J.B. (Puncak-puncak lain menunggu)

Ketika badai gunung lewat, ritual alam seperti ini bukanlah menjadi peristiwa yang menakutkan bagi kami. Tenda kami lipat. Ponco kami buka. Kami bergegas mencari cerukan. Di sekeliling bibir cerukan itu kami menata carier/ tas gunung. Bentuknya menjadi sebuah benteng alamo. Di dalam cerukan itu kami saling berhimpit. Saling sodorkan makanan kecil. Dan yang jelas masih terus saling cela dan mengejek. Kalu tak ingin menjadi bulan-bulanan ejekan, maka jangan bersikap ego. Gurauan sangat penting untuk tangkis rasa takut dan panik. Kami sadar, rasa was-was cuma akan hancurkan kekompakan. Jadi kalau panik lebih baik tidur. Biasanya rasa panik sangat dekat dengan orang yang sedang dihinggapi rasa ego. Rasa ego tumbuh ketika fisik telah mulai melemah.

Kami turun dari puncak sesuai dengan jadwal waktu yang sudah disepakati. Kali ini tidak dipecah menjadi beberapa kelompok lagi. Kami turun bersama-sama. Sebab, kami tahu, perjalanan turun dari puncak mengandung risiko lebih banyak dari pada perjalanan naik menuju puncak. Kemungkinan tersesat dan salah jalan lebih besar.

Setelah sampai di perkampungan dan memasuk kembali dalam peradapan, kami segera bergegas mencari tempat berkubang “mandi” bersama. Biasanya di kali. Dalam acara itu, bukan lagi makanan yang kami pertukarkan. Namun, kami saling barter alat-alat perawat penampilan dan wewangian (kalau ada yang bawa). Namun ada juga yang tidak mau mandi. Saat seperti itu yang ada dalam otak kami adalah menu lezat dalam rumah makan atau warung vaforit kami. Kami saling beradu pendapat memilih lokasi makan bersama.

Pesta rimba telah usai (Franz J.B.)

Didukung oleh:

(Informasi selengkapnya klik menu grana photography)

.


Categories

%d bloggers like this: