Posted by: agriculturesupercamp | July 5, 2008

Tabiat Elang Hitam

Dari Soaring Hingga Duel di Angkasa

Berbagi tugas dan kemandirian adalah norma utama generasi elang hitam. Mereka harus siap bertahan hidup dalam kehidupan belantara yang keras.

Foto : Franz J.B. (Elang hitam. Ictinaetus malayaensis)

Mengamati dan mencermati kehidupan harian elang hitam sungguh bermanfaat. Bukan hanya keasyikan yang bisa kita dapatkan. Cara hidup burung pemangsa ini mengandung nilai yang patut ditiru. Kemandirian dan saling bekerjasama adalah nilai itu. Acara mengintip burung seperti ini bisa menjadi sebuah hobi berpetualang yang sarat dengan pengetahuan.

Mengendap-endap di bawah tajuk pepohonan, berpakaian berwarna gelap, singgah di balik jaring kamuflase bisa membuat Anda terhindar dari pengamatan satwa bermata tajam ini. Unggas ini mampu melihat mangsa seukuran kelinci sejauh lebih dari 1,5 km.

Keras, itulah hukum yang berlaku dalam kehidupan di alam bebas. Hal inilah yang mungkin memaksa elang hitam mewariskan cara hidup mandiri dan saling berbagi tugas dari generasi ke generasi berikutnya.

Foto : Franz J.B. (Belajar keluar dari sarang ketika teleh berusia 2 bulan)

Unggas berbulu hitam ini termasuk satwa langka. Mereka memiliki masa reproduksi lama dengan jumlah kelahiran sedikit. Elang hitam bertelur dan beranak setiap 1 tahun sekali. Itu saja hanya menghasilkan 2 telur setiap kali bereproduksi. Hanya satu anak yang mampu bertahan hidup hingga dewasa. Di Jawa, elang ini bereproduksi pada saat Bulan Mei.

Bagi mereka, bertahan melestarikan kelangsungan generasi seperti itu bukan hal mudah. Elang hitam harus mampu mengalahkan ancaman kepunahan yang kerap bersumber dari kian menyempitnya tempat hidup mereka. Unggas bernama ilmiah Ictinaetus malayaensis ini hidup di India, Sri lanka, Asia Tenggara, Sunda Besar, Sulawesi dan Maluku.

Saat musim bereproduksi tiba, pasangan elang akan mencari lokasi sebagai tempat bertelur dan mengasuh anak.

Elang hitam akan menyuap anak-anaknya sampai mereka berusia sebulan Selepas itu, induk mulai melatih elang muda itu menikmati hasil buruannya secara mandiri. Induk akan menyabik-nyabik daging binatang tangkapannya lalu menaruhnya di sarang. Bila perut sudah lapar, anak elang itu mulai belajar menikmati menu makan sendiri. Saat usia anak mulai bertambah, induk tidak lagi memotong-motong hasil buruannya. Binatang tangkapan itu ditaruh utuh-utuh di sarang. Anak-anak mereka mulai belajar mencabik-cabik menu segarnya itu.

Pasangan elang melaksanakan tugas berburu secara bergantian. Ketika salah satu induk berburu di hutan, induk yang lain bertugas menjaga anak dan sarang mereka. Terbang soaring, berputar-putar di atas sarang. klii-ki …klii-ki atau hi-li-liiiuw…. Suara dari salah satu elang mengiysratkan kedatangan dengan hasil buruannya. Sementara induk yang tadi berjaga bergegas meluncur meninggalkan sarang untuk menggantikan tugas berburu.

Induk yang berhasil berburu terus berputar-putar di atas sarang sambil mengeluarkan suara melengking mengundang perhatian anaknya. Elang muda bergegas menuju ujung dahan yang paling tinggi. Saat itu pula, induk elang melepas hasil buruannya dari angkasa. Sang anak melesat dari dahan menyambut umpan yang melayang diangkasa itu. Gagal meangkap sering terjadi. Elang muda itu akan mencari oleh-oleh dari induk yang terhempas di lantai hutan.

Foto : Franz J.B (Duel dan berbagi mangsa di angkasa)

Saat anak elang telah pandai terbang. Induk akan mengajaknya terbang dan berburu bersama. Bagi mereka, hutan adalah meja makan. Satwa ini membutuhkan arena berburu seluas 50 – 160 km persegi. Mereka bebas mengincar menu apasaja yang singgah dalam kanopi hutan.

Berbagi mangsa di angkasa sungguh menjadi atraksi yang mengasyikkan. Ketika sang induk berhasil menyambar mangsa, ia akan menukik mendekati anaknya. Beberapa saat kemudian elang muda itu berusaha merebut mangsa yang berada dalam genggaman cakar sang induk. Cakar berkuku tajam mereka lalu saling terkait, menembus daging mangsa yang tak lagi bernyawa. Kedua elang itu sesaat berputar-putar di angkasa. Cara berebut makanan seperti ini wajib dipelajari oleh seekor elang muda. Saat ia beranjak dewasa, duel di angkasa berebut mangsa menjadi ritual harian.

Memangsa, dimangsa, bertahan dan duel adalah warna kental alam bebas (Franz J.B.)

Perlu diketahui

Warna bulu anak elang hitam itu berwarna cokelat. Berubah menjadi hitam bila elang tersebut telah berusia 3 – 4 bulan

Foto : Franz J.B. (Elang Hitam berusia 2 bulan)

Didukung oleh:

Informasi selengkapnya silakan klik menu Grana Photography


Categories

%d bloggers like this: